Berawal dari lembaran putih kosong dan itu lah kehidupan kita. Perlu diberi
tulisan. Atau gambaran tanganmu. Entah tulisan apapun itu tergantung kita yang
menuliskannya. Dan ya benar, memang kita sendiri yang mempuyai hak untuk itu.
Termasuk dalam kehidupan percintaan? Jawabannya sudah pasti iya.
Dengan siapa, kapan dan bagaimana perjalanannya cuman kita yang bisa
menentukan. Bahkan setiap yang terjadi bisa dijadikan acuan untuk selanjutnya. Tapi
entah jika berbicara CINTA, untuk diriku sendiri adalah sesuatu yang sangat sensitif.
Setiap diakhir Februari pastilah usia diriku bertambah. Dan tua secara
umur itu sudah pasti. Kalau urusan cinta dan perasaan aku bukanlah pakarnya. Aku
bisa menasehati dan memberikan motivasi tapi jika sudah mengalaminya sendiri
pastilah menjadi orang yang bodoh. Tapi itulah faktanya, seseorang yang jatuh
cinta pasti akan menjadi orang yang bodoh.
Perasaan kepada seseorang itu bisa muncul dengan begitunya, bahkan
ketika ditanya alasannya aku tak akan pernah tau. Tapi permasalahan yang sama
selalu hadir ketika aku mulai menumbuhkan dan memelihara perasaan itu.
Aku bukan orang yang banyak pengalaman di dunia cinta. Tapi aku suka
sekali membaca buku roman cinta, psikologi dan motivasi, makanya mungkin aku
terlihat begitu mengerti. Ya ditambah dengan curhat-curhat yang mampu ku
jadikan penambahan ilmu di dunia percintaan.
Pengalaman punya pasangan saja baru dengan seorang pria yang berakhir
dengan menyakitkan yaitu perselingkuhan. Entah kamu pernah diposisi yang sama
atau tidak yang pasti posisi itu benar-benar tidak menyenangkan, bahkan rasanya
seperti jantung kamu ditusuk pisau tajam. Dan biasanya kalau jika sudah
mengalami pasti bisa menimbulkan ketakutan-ketakutan ketika memulai yang baru. Dan
itu yang pernah terjadi pada diriku.
Tapi entah apa maksud Tuhan. Ketika aku sudah memberanikan diri untuk
membuka yang baru dan mulai menumbuhkan dan berencana untuk memelihara perasaan
ini, sekarang semua benar-benar hilang begitu saja tanpa ada kejelasan.
Tapi aku rasa aku tau jawabannya. Lelaki melihat wanita dari parasnya
itu wajar. Sangat wajar. Begitu pula dengan para wanita. Jadi tidak menyalahkan
dia tapi menjadikan pembelajaran untuk diri sendiri. Pembelajaran untuk
menerima pasangan dengan apa adanya dan jangan terlalu menggunakan perasaan,
apalagi perasaan yang hebat ketika baru berada di masa-masa pendekatan dan
pengenalan. Karena tidak semua akan berkahir dengan kepastian.
Aku bukan wanita yang memliki paras dan tubuh yang cantik. Aku sadar
itu, bahkan terlalu sadar dan membuat aku suka merasa kurang percaya diri
dengan yang lainnya. Salah? Iya aku tau salah, tapi tidak mudah membuang rasa
minder itu.
Tapi apakah aku salah kalau aku ingin mendapatkan dia yang setia, dan
menerima aku apa adanya? Bahkan aku punya sebuah mimpi suatu ketika ada seorang
pria yang serius denganku dan ketika ia menyatakan cintanya dan meminta aku menjadi
pasangannya, dia lakukan dengan duduk di sebuah meja makan yang romantis. Tempat
yang sudah disengaja diatur dengan begitu romantis. Ada bunga atau lilin di
jalan-jalan yang aku lewati. Ada pantai dan ada alunan musik. Tapi itulah mimpi
dan pengertian kondisi romantis yang aku
banyak baca di novel-novel dan entah akan menjadi kenyataan atau tidak.
Tapi untuk kali ini aku tak akan memaksa diriku untuk mengharapkan itu
terjadi. Bahkan mungkin akan tetap menjadi sebuah mimpi selamanya. Dan kini aku
akan membiarkan air mata aku turun untuk beberapa waktu sehingga aku bisa
bangkit kembali menjadi diriku yang diluar terlihat ceria menurut orang
kebanyakan. Dan aku pun membiarkan dia mendapatkan wanita yang jauh lebih baik
dari diriku. Niat yang baik ya? Walaupun sebenarnya ini sangat sulit untuk hati
ini.
Sekarang ijinkan aku bermimpi bahkan terus bermimpi. Dan sambil
mempersiapkan hati untuk mengalaminya lagi, aku akan mengejar mimpi-mimpiku
yang lain. Benar aku memang seorang pemimpi.