Cerita ini mungkin bukan yang pertama terjadi, bahkan cerita cinta ini
sempat mempunyai musimnya. Yang mengalaminya bukan hanya satu pasang
bahkan tidak melihat tahta. Dari kedudukan atas dan bawah ada saja yang
mengalaminya. Entah itu memang takdir yang harus terjadi sehingga banyak
dari mereka hanya bisa pasrah dan mencoba menjalaninya dengan kerelaan
hati yang sangat sulit.
Cerita ini benar adanya dari dan merupakan cerita dari OB atau lebih
tepatnya adalah OG (karena doi adalah wanita). Dia lahir dari sebuah
keluarga yang tidak berkemampuan dan mempunyai saudara kandung yang
cukup banyak. Akhirnya dia dibiarkan dan diijinkan orang tua kandungnya
untuk diasuh oleh orang tua lain yang belum mempunyai anak perempuan
ditengah keluarganya. Akhirnya dari usia 3 tahun dia sudah dibesarkan
dengan oang tua asuh hingga sekarang berusia 20 tahun.
Sore itu tanpa gue berniat untuk membuat dia curhat tapi diawali
ke'kepo'an dia tentang kekasih gue sekarang (padahal single) akhirnya
dia bercerita bahwa tanggal 10 Juni 2013 ia akan melangsungkan
pernikahan. Sontak gue senang banget karena yang gue tau sebelumnya dia
mempunyai kekasih dengan beda usia 7 tahun dan sudah berpacaran 7 tahun
(buseet doi pacaran dari SMP, dari cinta monyet..) Dengan antusias gue
langsung ceng-cengin dia karena entar lagi jadi manten samapi gue
bertanya ada ritual khusus gak kaya semacam dipingit. Ehh dia malah
langsung nangis. Gue merasa bersalah jangan-jangan bencadaan dan
ceng-cenge'an gue terlalu berlebihan (gue hobinya emang ceng-cengin
orang). Tapi ternyata dia menceritakan semuanya.
Dia menikah bukan karena cinta! Dia menikah dengan orang yang tidak
dicintai dan baru dikenal. Shock meeenn gue! Dia harus putus dengan
pacarnya yang udah jalan 7 tahun karena orang tua asuhnya menjodohkan
dengan orang lain yang baru dia kenal 2 bulan dengan alasan lebih mapan
dari pada lelaki yang dia pacarin selama 7 tahun. Karena dia merasa
harus balas budi makanya dia cuman bisa terima. Awalanya dia sih udah
coba berargument sama BABE nya yang katanya emang galak dan merasa
selalu benar. Dan selama 7 tahun pun dia memang pacaran backstreet
(dibalikjalan,,yakaleee)..
Dia bilang gak rela tapi apa boleh buat. Gue ikut nangis jadinya, kala
gue ada dipihak dia mungkin gue gak bsia sekuat dia, Mungkin gue udah
kawin lari sama pria yang gue cintai, atau gue lari aja ke luar kota
daripada dipaksa nikah, atau gue ngancem bunuh diri kalau masih dipaksa
nikah sama orang yang baru gue kenal dan gak gue cintain dengan alasan
kemapanan doang. Tapi dia?
Dia udah menjalankan tanggung jawab sebagai anak dengan luar biasa.
Dia udah merelakan kebahagiannya dia demi orang tua (bukan kandung alias asuh).
Dia harus terpaksa tersenyum didepan banyak orang untuk menunjukan kebahagiaan palsu.
Luar biasaa..
Kapan yang namanya perempuan itu bisa lepas seutuhnya dari pemaksaan, kelemahan, dan hak yang direbut?
Apa kalau lo ada dipihak dia akan melakukan hal yang sama? Atau lo
melakukan seperti apa yang gue pikirin ketika gue ada di pihak dia?
Kapan hati itu tidak dipermainkan?
Cinta gak selamanya sejalan dengan apa yang dibayangkan dan diharapkan.
No comments:
Post a Comment